Pages

Bulu Perindu Aura

Selasa, 21 Februari 2012

Papaku Bukan Pembunuh: Kesaksian Ferren Anak John Key



Aku kaget ketika tahu Papa ditangkap di Hotel C’One Pulomas, Jakarta Timur. Apa salah Papa. Papa seorang ayah yang baik. Papa selalu pulang ke rumah. Tepat waktu. Kami tinggal di Perumahan Titian Indah Bekasi RT 007/08 No. 12. Rumah kami biasa saja.  Bukan istana. Nama Papaku bukan John Key. Papaku John Reffra. Kata Oom Titto, pada saat ditangkap Papa dikepung oleh 75 polisi. Duh, Papa…
Sampai saat ini aku belum bertemu Papa. Menurut Oom Titto, Papa dibawa ke RS Polri Soekanto Kramat Jati, Jakarta Timur. Begitu tiba, Papa langsung dimasukkan ke dalam IGD, sementara puluhan anggota Brimob bersenjata laras panjang langsung membuat pagar manusia di sekeliling ruang IGD. Pengamanan superketat. Oom Titto dan kuasa hukum Papa, Oom Taufik Chanda, tidak bisa masuk menemui Papa. Hal ini berlanjut saat Papa dipindahkan ke ruang Tembesu, tempat para tahanan biasa dirawat. Oh, Papa menjadi tahanan.
Tiba-taba aku jadi teringat liburan terakhir aku sama Papa. Kami pergi ke Tual. Kampung halaman Papa. Tual itu Ibu Kota Maluku Tenggara. Tual terletak di Pulau Kei Kecil. Pulau ini padat penduduk. Jalanan di Tual mulus. Tidak seperti di Bekasi atau luar kota Jakarta. Pulau Kei Besar lima kali lebih besar dari Kei Kecil, namun penduduknya justru cuma sepertiga dari jumlah penduduk Kei Kecil.
“Ferren, itu Kota Tual, kota tempat leluhur kita berasal,” kata Papa.
“Indah ya Pa, Kota Tual…laut biru terbentang,” sahutku.
Duduk di samping aku Mama. Juga bersama kami satu pesawat kecil ini teman-teman Papa. Papa duduk dekat dengan Oom Totti. Terbang pula bersama kami Oom Charles, Oom Anton, Oom Tonny, Oom Daniel, dan Oom Kasteno. Pesawat sebentar akan mendarat di Bandara Dumatubun, Tual. Aduh senangnya mengunjungi tanah kelahiran Papa. Kata Papa suku Kei banyak memakai nama berakhiran -bun. Kadmaerubun. Dumatubun. Sedubun. Sekedar contoh.
“Tual, Kei Kecil, I am coming,” kataku dalam hati. Girang bukan main.
Itulah liburan terakhir yang aku. Aku di sana seminggu saja. Kata Papa banyak pekerjaan menunggu di Jakarta. Sebelumnya Papa sering mengajak aku ke Eropa, Australia dan paling sering ke Bali. Papa juga punya sejumlah villa di Puncak. Tapi yang jelas Papa sering mengajak aku ke mana-mana. Dan kami selalu ditemani oleh banyak teman.
Kini tiba-tiba Papa terpisah dari aku. Papa ditangkap karena dituduh terlibat pembunuhan. Yang dikaitkan dengan penangkapan C, A, T, DN, dan KP seperti yang aku dengar di televisi. Apakah mereka adalah  Oom Charles, Oom Anton, Oom Tonny, Oom Daniel, dan Oom Kasteno? Mirip sekali inisialnya.
Aku menangis. Aku tak percaya Papa seorang pembunuh. Tidak mungkin Papa membunuh orang.
Suatu saat aku dengar pembicaraan Papa dengan teman-temannya. Teman-teman Papa banyak bekerja sebagai debt-collector. Tapi Papa bukan debt-collector. Papa tokoh pemuda Maluku Key, Amkey. Mungkin kependekan Ambon Key ya.
“Kita dianggap preman. Premanisme hendak diberantas,” kata Papa.
Apakah itu tanda polisi hendak menangkap Papa ya? Aku jadi bertanya sendiri. Mampukah? Bagaimana sesungguhnya gambaran dunia ganster. Dunia mafia di Jakarta. Dunia perpremanan. Dunia hitam di Jakarta dan sekitarnya sebenarnya tidaklah terlalu sulit dikenali. Dunia mafia di Indonesia termasuk Jakarta sungguh transparan. Tidak perlu penelitian dan pengamatan bertahun-tahun seperti di Italia atau Amerika. Atau Jepang sekalipun. Juga Hongkong.
Dunia preman bisa dilihat dari Tanah Abang. Daerah Tanah Abang adalah daerah hitam sejak zaman baheula. Zaman dulu. Aneka kisah para jawara mewarnai Tenabang. Ingat penguasa Tanah Abang bernama Hercules. Juga kelompok Surabaya dan Medan. Sampai saat ini pelacuran marak di sekitar tanah Abang, dekat dengan Markas FPI Petamburan. Namun FPI tidak akan berani membongkar dan menggusur praktek pelacuran di Tanah Abang. Kenapa? Ada kekuatan besar mafia yang melindungi. Kata Papa.
Apakah karena Papa kritis dan memiliki banyak anak buah sehingga ia dituduh sebagai pembunuh. Hanya gara-gara teman-teman Papa dituduh membunuh Tan Harry Tantono alias Ayung (45 tahun). Oom Tan Direktur PT Sanex Steel Indonesia dibunuh di kamar 2701 Swiss-Belhotel, Sawah Besar, Jakarta Pusat.
“Papa enggak galak kok. Papa itu suka anak kecil. Papa tuh lucu,” ceritaku pada wartawan saat aku mengunjungi Papa di RS Polri, Jakarta Timur, Minggu (19/2/2012).
Aku tak bisa melupakan candaan Papa. Setiap saat Papa suka bergurau. Papa juga suka membuat mop-mop khas Indonesia Timur.
“Premanisme di Jakarta tidak hanya ada di jalanan. Di area parker. Tidak juga hanya di tempat hiburan di Hayam Wuruk, Taman Sari, Gajah Mada. Di DPR premanisme lebih gila,” cerita Papa.
Saat itu aku, bersama Papa, satu mobil dengan Oom Muhammad Nazaruddin, tersangka kasus Wisma Atlet, mantan Bendahara Partai Demokrat.
“Iya bahkan pengakuan Mindo Rosalina mengejutkan. Ada Menteri SBY yang meminta uang 180 milyar untuk proyek Wisma Atlet. Ini namanya preman berdasi…hahahahha,” timpal Oom Nazaruddin tertawa.
Waktu itu Oom Nazar belum jadi tersangka lho. Di dalam mobil kami Oom Nazar sering telepon Oom Anasz Urbaningrumm, Tante Angelina Sondach, Tante Mindo Rosalina, bahkan Oom Ruhut Sitompul dan juga Ketua DPR Marzuki Ali. Maklum mereka satu partai.
Kini semua itu hanya kenangan. Aku tak bisa membayangkan Papa didzolimi, kata Mama. Papa bisa meringkuk di penjara selama 20 tahun. Duh. Papa semoga kebenaran ditegakkan. Aku tak yakin Papa seorang pembunuh. Papa selalu lembut padaku. Yang aku mau sekarang, aku mau menjenguk Papa. Tapi polisi menghalangi. Duh Papa aku ingat selalu setiap pagi Papa membuatkan aku pan cake. Kini papa tidak bisa membuatkan akupan cake. Untuk 20 tahun. Tuhan!

1 komentar: